Tampilkan postingan dengan label Cerpenku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpenku. Tampilkan semua postingan
"Gak bisa!!!"
"Kita harus pindah"
"Titik."
"Tapi Mam, Ayah juga harus kerja, dan untuk bisa bekerja di situ gak mudah Mam"
"Mama gak mau tau, pokoknya sekali pindah tetap pindah."
"Mama jangan egois dong"
"Terserah apa kata Ayah, kalo Mama bilang pindah ya harus pindah"
Aku hanya bisa menangis dan mendengarkan perdebatan ke dua orang tuaku dari dalam kamar. Kupeluk erat guling sambil menangis, tak lama kemudian suara kedua orang tuaku tak terdengar lagi. Aku pun ikut dalam keheningan malam itu, terlintas pertanyaan di benakku, “apakah sudah berakhir?”. “tok…tok..tok…” aku dikagetkan suara pintu kamarku yang di ketuk dari luar. Aku segera bangkit dan membuka pintu, berdiri Ibuku di hadapanku,
“ada apa Mam?”tanyaku,
”besok pagi-pagi kita pergit ke rumah baru kita, segera persiapkan barang bawaan yang kamu buthkan”, ucap Ibuku dengan wajah dingin dan segera pergi menuju ke kamarnya.
Akhirnya setelah perdebatan sengit antara ke dua orang tuaku selesai, Mamaku lah yang memenangkannya. Dan kamipun sepakat untuk pindah rumah. Malam harinya kami segera mengemasi barang-barang kami. Akupun dengan berat hati harus meninggalkan kota kelahiranku, teman-teman dari kecilku, dan semua yang menjadi kenangan dalam hidupku di kota kelahiranku. Setelah mengemasi barang aku pun beranjak ke tempat tidur dan merebahkan badanku di tempat tidur untuk melepas lelah yang hinggap di tubuhku. Esok hari, pagi-pagi sekali kami sekeluarga di temani Pak Ujang berangkat menuju rumah baru kami, sebuah rumah yang terletak di desa yang jauh dari keramaian kota.
Sore hari tibalah aku di sutau desa terpencil di pinggiran kota. Aku pindah ke desa karena Mamaku dapat tugas dari kantornya, dan itu yang mengharuskan kami sekeluarga pindah. Semula Ayahku menolak pindah karena Ayah bekerja di kota, tapi akhirnya kalah juga dengan Mamaku. Ayahku seorang yang penurut terhadap istrinya, apa yang di kehendaki oleh Mamaku selalu diturutinya, tak pernah tidak, meski ia harus merelakan pekerjaan yang di sayanginya. Ayahku bekerja di perusahaan pembuatan Robot. Ayahku bekerja keras untuk bisa bekerja di tempat itu. Namun pada akhirnya Ia harus merelakan pekerjaannya demi sang Istri. Mamaku juga begitu, Ia seorang yang keras kepala, tak pernah mau mengalah dan kalah terhadap Ayahku, apa yang di inginkannya harus di turuti. Sore hari menjelang malam aku tiba di rumah baruku, setelah perjalanan seharian yang melelahkan. Pak Ujang segera menurunkan barang-barang dari bagasi mobil. Akupun segera turun dari mobil dan masuk ke rumah baruku, rumah yang akan ku tinggali selama Mamaku tugas.
Pagi-pagi aku terbangun setelah semalam aku tertidur dalam kelelahan. Mentari pagi beri salam lagi, kubuka jendela kamarku, kurasakan udara pagi yang segar masuk melalui ke dua lubang hidungku. Ternyata, tak seperti yang kubayangkan, tak pernah aku menghirup udara sesegar ini. Segera aku keluar kamar, kulihat ayahku duduk sendiri di meja makan, pandangannya kosong, menerawang jauh entah apa yang sedang di pikirkannya, tak menghiraukan aku yang ada persis di depannya, meskipun agak jauh. Tiba-tiba seperti mendapat pencerahan dari Tuhan, wajahnya berubah menjadi riang dengan senyum kecil menyungging di bibirnya yang tipis, dan segera ia masuk ke kamar pribadinya yang penuh dengan peralatan-peralatan yang tak ku ketahui apa fungsinya dan tidak ada seorang pun yang pernah masuk ke kamarnya.
Sudah beberapa hari Ayahku tidak keluar dari kamarnya. Dan ketika aku bertanya pada Ibuku,
“Mam, Ayah sudah gak keluar dari dua hari yang lalu”
Ibuku dengan santai menjawab
“Alaaaah, paling-paling kalau Ayahmu sudah kelaparan akan keluar dengan sendirinya, sudah ah, Mama mau tidur dulu capek sekali badan Mama, selamat malam Anakku sayang”
dan segerapergimeninggalkankuyang masih asyik melihat serial drama. Aku pun masih cemas dengan keadaan Ayahku, apa gerangan yang di kerjakan di dalam kamarnya. Malam semakin larut, jarum jam menunjukkan pukul sebelas malam, rasa kantuk mulai menyergapku, segera ku matikan televisi dan segera beranjak ke kamar.
Pagi datang lagi, Aku keluar untuk mandi dan rencana mau lari pagi sambil melihat pemandangan di sekitar rumahku. Ketika ku buka pintu, kulihat ayahku sudah duduk di meja makan dan dengan lahapnya makan nasi goreng, seperti orang yang tak pernah makan nasi selama satu bulan.
“pagi anakku yang cantik”
Ayah menyapaku. Kaget sekaligus senang, kaget karena tak pernah kulihat ayahku sesenang ini dan senang karena ayahku akhirnya sudah keluar dari kamarnya.
“waaah, anak Ayah yang cantik ini tak punya kuping rupanya, di sapa kok diam aja”,
akupun hanya tersipu malu,
“tumben Ayah sesenang ini?”,
“lhoh kamu ini bagaimana, Ayah diam salah, Ayah senang juga salah” jawabnya dengan mulut masih mengunyah nasi goreng bikinan Pak Ujang. “ah, eh, enggak Yah, Andini cuma heran saja, gak seperti biasanya Ayah senang sekali seperti hari ini”
sangkalku padanya,
“sudahlah gak usah dipikirin, cepat cuci muka sana lalu sarapan bareng Ayah, sudah lama Ayah gak makan bareng sama kamu Nak, nasi goreng bikinan Ibumu enak lho, kamu gak pengen nyoba?” Tanya ayah padaku,
“haaaah, Mama masak Yah?” tanyaku terkejut dengan rasa tidak percaya bahwa Mama telah memasak nasi goreng, padahal setauku Mama tidak pernah bisa masak, jangankan nasi goreng, goreng telur saja tidak bisa.
“sekarang Mama mana Yah?”
“ada tuh di dapur lagi nyuci piring”
"Apa!!! Mama nyuci piring?"
"apa hari ini Mama tidak bekerja?"
"Kenapa Mama berubah?"
Dan masih banyak pertanyaan yang belum terjawab yang membuatku tak percaya dengan perubahan sikap Mama.
Aku segera menuju dapur dan berniat mau menginterogasi Mama dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuatku bingung. Belum sempat aku bertanya
“Pagi Andini, putri mama yang satu ini memang cantik sekali mirip Mamanya”, aku kaget dan berfikir apakah aku sedang mimpi, ku coba menampar pipiku sendiri dan
“Aaaauuuww” terasa sakit, dan berarti aku tidak sedang mimpi. Mungkin aku sekarang ini sedang dalam tahap menjadi orang gila, bagaimana tidak, Mamaku yang super sibuk sekarang berubah menjadi ibu rumah tangga yang baik, Mamaku yang dulu suka berpakaian rapi memakai jas dan rok mini yang membuatnya terlihat feminim sekarang mau memakai celemek dan berkotor-kotoran dengan dapur, Mamaku berubah, beubah seratus persen, berubah seratus delapan puluh derajat. Aku bingung, Aku takut.
“Aaaaaaarrrrggghhhh!!!” Aku segera berlari kedepan menuju ayahku,
“kenapa Mama Yah?, apa yang terjadi pada Mama Yah?”.
”Mamamu sedang belajar menjadi wanita yang baik, wanita yang patuh terhadap suaminya, wanita yang seharusnya berada di rumah mengerjakan pekerjaan rumah seperti wanita yang lainnya, sudah kamu gak usah bingung, gak perlu takut, Mama berubah kan juga untuk kita, untuk Ayah dan juga untuk Andini” segera sesudah ayah memberi penjelasan Mama datang mengantarkan kopi untuk Ayah sembari berkata
“ini Yah kopinya, special untuk Ayah, oh iya, Andini mau dibuatkan the hangat?”, Aku hanya terdiam mendengar pertanyaan dari Mamaku,
“waaaah anak Ayah yang satu ini memang tak punya kuping, ditanya Mamanya kok diam saja”, Aku segera sadar
“ boleh Mam, tapi jangan manis ya?”, Mama segera pergi kedapur untuk membuatkan aku teh hangat seperti yang di tawarkannya.
Aku masih tak percaya dengan apa yang terjadi pada Mamaku akhir-akhir ini, aku hanya terdiam di depan layar komputerku, termenung, melamun seperti orang ling-lung.
“tok..tok…tok…” suara pintu mengagetkanku, segera aku buka pintu kamarku, berdiri Ayah dan Mamaku berpakaian rapi,
“Ayah dan Mama mau pergi jalan-jalan keliling desa, lagian sudah lama Ayah dan Mamamu tidak pernah berduaan, Andini mau ikut?”,
“ehh, enggak deh Yah, Andini lagi sibuk Ayah berdua saja sama Mama, tar Andini ganggu kencan Ayah ma Mama lagi”,
“Ya sudah Ayah dan Mama pergi dulu ya?kamu jaga rumah” “iya Yah, ati-ati di jalan”. Lalu keduanya pergi keluar entah kemana, Aku pun segera melanjutkan menulis cerpenku.
Asyik menulis cerpen membuatku lapar, perutku sudah tak bisa di ajak kompromi, ternyata Mama hari ini masak makanan kesukaanku, sayur kangkung super pedas, segera aku makan, tiba-tiba pandanganku tertuju pada sebuah pintu yang tak lain adalah pintu kamar ayahku, lama aku memandangnya secara tak sadar aku pun sudah dengan lancang masuk ke kamar Ayah. Kulihat peralatan-peralatan serba canggih, dan tak satupun aku mengerti tentang alat ini, kemudian pandanganku secara tak sengaja melihat sebuah kaset DVD, aku bingung, selama ini setauku Ayah orang yang tidak suka melihat film. Aku pun mengambilnya dan segera aku memutarnya di video player.
Aku kaget setengah mati, Aku terkejut bukan main, Aku takut setelah menonton film yang kutemukan di kamar ayahku, film yang menceritakan tentang seorang suami yang merubah istrinya menjadi robot karena tak tahan dengan sikap istrinya yang semena-mena dan merasa lebih dari suaminya, suami yang merasa tertindas oleh sikap istrinya yang telah berubah menjadi sosok wanita tangguh, wanita yang beranggapan bisa memiliki segalanya, wanita yang merasa lebih tinggi status sosialnya ketimbang laki-laki, wanita yang…
“Aaaarrrrgghhh!!!”.
Aku takut, karena apa yang dialami Mamaku sama seperti sang Istri dalam film tersebut, sang Istri yang berubah seratus persen, berubah seratus delapan puluh derajat, persis dengan apa yang Mamaku alami. Perasaanku tak karuan, bermacam-macam pikiran menghantuiku, namun satu pertanyaan yang membuatku takut, takut sekali,
“ apakah Mamaku telah di ubah menjadi robot oleh Ayahku?” Read More..
Posted on
-
1 Comments
Suara kereta yang terdengar dari kejauhan yang sedari tadi di nanti-nanti oleh beberapa kerumunan manusia memakai baju rapi lengkap dengan dasi melingkar di kerah bajunya, ada juga yang menenteng tas entah apa itu isinya yang bolak-balik, setiap saat entah berapa kali mereka lakukan, memandangi arloji di sebelah kiri ataupun sebelah kanan pergelangan tangannya.
Terlihat wajah gusar sesekali menggerutu mengucap kata-kata yang tak bisa kupahami karena aku hanya melihat mulutnya yang bergerak-gerak di sertai rasa emosi, benci, marah dan perasaan jengkel membuat wajah mereka semakin tidak enak dipandang mata. Belum lagi kulihat anak-anak kecil mengulurkan tangan-tangan kecilnya ke orang-orang berdasi memakai jas hitam licin dengan harapan mendapat uang dari manusia-manusia berpakaian rapi itu.
Kakek-kakek, nenek-nenek, dengan pakaian kumel berbau apek, dekil, kotor bahkan sobek-sobek tetap mereka pakai untuk menutupi aurat tubuh mereka agar terjaga dari pandangan-pandangan mata manusia-manusia. Tubuhnya kurus kehitam-hitaman sehingga membuat tulang-tulang mereka menonjol keluar seakan ingin keluar dari dalam tubuhnya. Terlihat seorang ibu dengan payudaranya keluar separo – separo tertutup oleh selendang – tidak malu ataupun merasa risih ketika anak-anak kecil, penjual rokok keliling, penjual es teh keliling, calo-calo karcis ataupun orang-orang yang kebetulan lalu lalang berjalan melihatnya dengan tatapan penuh nafsu, itupun gratis. Tidak perlu membayar.
”Jhem!!!, Ijhem!!!” teriak sang ibu pada anaknya yang sedari tadi bermain golekan yang salah satu tangannya hilang karena terputus dengan sendirinya. Mungkin sudah terlalu lama. Memang, hanya boneka itu teman mainnya sejak kecil. Ia sangat menyukai boneka pemberian almarhum bapaknya.
Ijhem. Begitulah ibunya memanggil gadis kecil berumur sekitar enam tahunan itu. Ijhem menjadi yatim setelah bapaknya mati dua tahun lalu. Bapaknya mati dengan misterius. Mayatnya ditemukan di dalam karung goni dan diletakkan begitu saja di sebelah stasiun, tepatnya di bawah pohon asem yang begitu besar. Ditubuhnya terdapat dua lubang yang di akibatkan timah panas yang keluar dari moncong senapan yang entah siapa yang berani melakukannya pada ayah Ijhem.
Bapak Ijhem adalah seorang preman bertubuh kekar dengan otot lengannya yang terlihat begitu kuat, berambut cepak, berkulit hitam legam dengan tato tengkorak di sebelah kanan lengan tangannya ditambah dua gambar harimau yang melekat di dadanya, membuat siapa saja yang mellihatnya akan ketakutan. Tidak diketahui pasti kenapa ayah Ijhem dibunuh.
“ Ono opo to Mak?” tanya Ijhem pada ibunya yang sedang menyusui adiknya. “Saiki wes waktunya Kowe ngemis, cari duit. Matamu opo ora nyawang? Dari tadi ora ono seng nyemplungi duit. Nek kowe gak nyariduit, arep nguntal opo kowe ngko?” bentak Emak pada si Ijhem dengan mata melotot. “ emoh. Ra gelem aku” jawab Ijhem sambil lari cepat menjauhi Emaknya. “lhoh, lhoh, lhoh arep nyang ndi kowe? Di suruh ngemis kok malah minggat. Dasar bocah gemblung, bocah edan. Awas kowe kalau muleh!!!” teriak Emaknya dengan dada naik turun. Sesaat kemudian, matanya nanar, menerawang jauh setelah beberapa detik si Ijhem hilang dari pandangannya.
Setiap hari Emaknya hanya diam, duduk bersandar pada tiang besar di stasiun dan berharap penuh mangkok plastiknya dapat terisi penuh oleh uang. Dulu sebelum lahir adik Ijhem, emaknya juga ikut ngemis. Sekarang, semenjak ada adik Ijhem, Emaknya tidak pernah ngemis lagi karena kasihan pada adik Ijhem yang masih kecil sudah harus di ajak ngemis.
Dulu Ijhem dan Emaknya tinggal di daerah sekitar stasiun, di daerah perkampungan orang kumuh. Ia, Emak dan adiknya tinggal di gubug tiga kali tiga meter berdinding kardus bekas air mineral, beratap terpal yang sebagian sudah jebol-jebol sehingga nampak tambalan di sana-sini. Jika hujan tiba mereka ngungsi ke stasiun karena tempat tinggalnya akan terendam air dan tidak bisa buat tidur.
Suatu malam ketika Ijhem dan Emaknya –ikut pula adiknya- sedang tertidur lelap. Mereka di kejutkan oleh teriakan orang-orang yang histeris.” Kebakaran… kebakaran… kebakaran…” emaknya yang mendengar, langsung kaget dan keluar untuk melihat apa yang sedang terjadi. Orang-orang berlari ketakutan dengan ember air di tangannya, sebagian menyelamatkan harta benda mereka- yang mungkin tidak berarti. Mungkin juga sangat penting bagi mereka.
Alangkah terkejutnya si Emak ketika dimatanya terlihat kobaran api sedang melahap gubug-gubug yang berderetan dari timur ke barat. Api itu melahap semua apa yang bisa dilahapnya. Begitu cepatnya api berjalanTinggal satu gubug lagi, dan si jago merah akan sampai ke gubug yang didalamnya didapati Ijhem dan adiknya sedang tidur pulas. Tanpa banyak tingkah, Emaknya segera berlari masuk menyelamatkan kedua buah hatinya.
Pagipun tiba. Terlihat orang-orang dengan wajah sedih memelas memandangi sisa puing-puing rumah mereka yang hangus terbakar tadi malam.
Tanah rata. Sebagian orang berjalan diatas sisa puing-puing tersebut dan berharap ada barang yang masih bisa digunakan. Entah, rumah mereka terbakar atau memang sengaja di bakar.
Mangkok-mangkok kecil plastik, piring seng yang sudah berkarat, tempat minum air mineral bekas, topi-topi jerami yang berada tepat di depan orang-orang, anak-anak kecil yang tidak bisa berjalan karena kaki yang lumpuh duduk sepanjang hari berharap dapat terisi penuh dengan lembaran-lembaran kertas dan berkeping-keping koin.
Sampah-sampah berserakan, bau-bau pesing di setiap sudut tempat, kecoa, lalat yang terbang dari satu sampah ke sampah yang lainnya untuk mencari makan, kucing-kucing dengan tubuh kurus berusaha mengais tong sampah berharap dapat menemukan sesuatu untuk bisa mengisi perutnya, menambah lengkap pemandangan yang membuat setiap mata yang melihatnya enggan untuk melihatnya. Sungguh suatu pemandangan yang sangat tidak sedap untuk di pandang mata. Tapi bagi orang-orang komunitas kampung kumuh, orang-orang jalanan, gembel-gembel, hal tersebut sudah menjadi suatu pemandangan yang amat, sangat dan teramat biasa di nikmati setiap hari.
Suara speaker yang dipasang pada setiap sudut stasiun membut aku terbangun dari mimpi-mimpi indahku. Suara kereta semakin terdengar di telingaku. Semakin lambat, lambat dan melambat.
Kereta berhenti. Di ikuti pula suara roda kereta yang saling bergesek dengan rel, membuat hati siapa saja yang mendengarnya merasa tidak nyaman. Pintu-pintu gerbong mulai terbuka. Orang-orang saling berebut, berjubal, dorong mendorong, berdesakkan untuk bisa masuk ke kereta dan mendapat tempat duduk. Jika tempat duduk sudah terisi penuh, dengan terpaksa mereka berdiri berdesak-desakkan.
Tangan-tangan saling bergantungan memegang pegangan untuk menjaga keseimbangan waktu mereka berdiri. Dalam keadaan seperti ini sering tangan-tangan jahil meremas-remas atau hanya kebetulan dengan tidak sengaja merasakan empuknya pantat-pantat wanita. Wanita-wanita tersebut hanya bisa pasrah ketika tangan-tangan jahil tersebut menggerayangi tubuh, meremas, bahkan ada yang nekat melekatkan kemaluannya ke pantat empuk karena sudah tak tahan lagi dengan kondisi dan situasi seperti ini.
Kereta berhenti. Sampailah aku di stasiun Lempuyangan. Read More..
Posted on
-
1 Comments
Posted by
Tengky Widjanarkoe
In:
Cerpenku
“Brrraaaakkkkkk!!!!!!”
Sebuah truck menghantam sepeda motor apik yang sedang menyebrang jalan. Motornya penyok. Cat bagus dan mengkilap motor tersebut segera hilang karena body motor tersebut terkena goresan-goresan yang diakibatkan tertabrak truck tadi. Pengendara motor itu terpental sejauh lima meter. Terguling-guling seperti boneka yang tak mempunyai nyawa. Kepalanya pecah. Dari hidung dan mulutnya keluar darah. Entah masih hidupkah pemuda tersebut. Tangannya patah, kulitnya penuh luka dan goresan yang di akibatkan berbenturan dengan kerasnya jalan aspal. Segera orang-orang yang melihatnya berlarian menghampirinya. Berkerumun seperti melihat suatu pertunjukkan yang menarik.
“ Masih hidupkah anak itu?”
Tanya salah seorang yang sangsi akan kehidupan anak tersebut. Dilihat dari kondisi yang dialami oleh anak tersebut, kecil kemungkinan ia selamat dari kecelakaan yang menimpa dirinya. Mukanya yang tampan tertutup oleh merahnya darah yang mengalir akibat kepala bocah itu terbentur keras ke jalan. Hidungnya yang mancung bak air terjun yang airnya berwarna merah. Sangat tidak sedap di pandang mata. Membuat miris setiap hati yang melihatnya.
Segera salah seorang meletakkan tangan di lehernya untuk mengetahui apakah anak tersebut sudah mati atau masih hidup. Dirasakannya nafas bocah tersebut.
“ Anak ini masih hidup. Cepat!!! Telpon rumah sakit” teriaknya pada semua orang.
“ Tit..tit..tit..”
Bunyi tombol handphone yang sedang terpencet oleh jari-jari mungil seorang perempuan.
“ Halo, halo..”
“ Rumah sakit?? Terjadi kecelakaan di jalan Kunci nomor 21”
“ Korban segera membutuhkan pertolongan, cepat kirim ambulance ke sini.”
Beberapa saat kemudian datanglah mobil ambulance. Keluar perawat yang dengan segera mengangkat bocah itu masuk ke dalam mobil ambulance untuk segera dibawa ke rumah sakit guna menjalani pengobatan.
Beberapa hari setelahnya, sang anak mulai menunjukkan tanda-tanda bahwa ia telah siuman dari koma yang di alaminya selama tiga hari. Matanya terbuka setelah tiga hari terpejam rapat seakan ia seperti seonggok daging yang telah tak bernyawa. Pandangannya kosong. Sesaat kemudian, matanya tertuju pada seorang wanita yang tengah duduk di sampingnya.
“ Fender... fenderico...”
Sambil berteriak diiringi dengan keluarnya air mata dari kedua matanya yang di tutupi oleh dua buah kaca. Seorang perempuan yang agak tua segera menghampiri Fender. Bocah yang mengalami kecelakaan beberapa hari yang lalu.
“ Dimana aku sekarang?”
Kata-kata itulah yang terucap pertama kali dari mulut Fender. Rasa kebingungan menyelimuti benak pikiran Fender. Batinnya, “ sedang dimana aku sekarang?”.
“ Engkau sedang di rumah sakit anakku”
ucapnya sambil mengusap air mata yang sedari tadi mengucur deras dengan sapu tangan berwarna kuning bermotifkan bunga. Wanita itu tak kuasa menahan tangis karena melihat anaknya tergolek tak berdaya di atas kasur empuk tertutup sprei putih.
Melihat kedua tangannya yang terlepas dari badannya.
“ Di mana tanganku, di mana kedua tanganku?”. Teriaknya.
Malam yang dingin. Tampak bulan masih malu menampakkan dirinya. Ia bersembunyi di balik awan hitam yang menutupi wajah cantiknya. Di sebuah gubug terlihat seorang pemuda desa tak kerja tengah asyik bermain gitar di teras sebuah rumah yang terbuat dari anyaman bambu. Suara yang keluar dari mulutnya di ikuti suara gitar yang ia mainkan membuat malam yang dingin tak di rasakannya. Di desanya ia terkenal hebat dalam urusan bermain gitar. Beberapa kejuaraan bermain gitar ia menangkan. Setelah hamper dua jam berlalu, sang pemuda merasa kelelahan dan menyudahi untuk bermain gitar. Diletakkan gitarnya di ruang tamu yang tidak cukup besar beralaskan tanah. Ia rebahkan badannya ke dipan yang terbuat dari kayu.
“tok…tok…tok…”
Terdengar bunyi pintu rumahnya di ketuk oleh seseorang. Batinnya “Siapa malam-malam begini mencari aku?”. Segera ia bangkit dari tidurnya dan membuka pintu guna mengetahui siapa yang mengetuk pintu rumahnya. Dilihatnya lelaki tua berjenggot dan membawa sebuah tas yang entah apa itu isinya, sedang berdiri dihadapannya.
“Bapak cari siapa?”
Rasa penasaran menyelimuti hati sang pemuda.
“ Anu nak…bapak ada urusan dengan sampeyan”
Jawab sang bapak dengan menyunggingkan senyum di mulutnya.
Dipersilahkan bapak itu masuk kerumahnya.
“ Apa betul sampeyan yang namanya Gibson?”
Tanya bapak berjenggot itu pada sang pemuda
“ Betul pak, nama saya Gibson. Tapi ada urusan apa bapak dengan saya?”
Rasa penasaran yang belum terjawab menambah bingung si pemuda.
“ Anu nak, saya dengar dari orang-orang nak Gibson ini pandai bermain gitar.”
Pak tua bertanya lagi
Sambil tersenyum si pemuda berucap
“ Aaaaaahhh, itu Cuma kata orang-orang saja pak.”
Memang saya bisa main gitar tapi gak sehebat yang dikatakan orang-orang.
Si pemuda menunjukkan sifat rendah hatinya.
“ Eeemm, anu Nak, kalau boleh bapak bertanya? Berapakah nak Gibson menjual tangannya?berapapun saya akan membayarnya, asalkan nak Gibson menjual tangannya untuk saya.”
Pertanyaan bapak tua itu membuat kaget pemuda tersebut.
“ Waaah… maaf pak, saya tidak menjual tangan saya. Sebab ini peniggalan dari almarhum ayah saya."
Jawab sang pemuda dengan berat.
“ Bagaimana kalau tangan nak Gibson saya hargai lima ratus juta? Kan lumayan bisa untuk beli tangan lagi.”
Ucap bapak tua dengan santainya. Sembari menunjukkan uang seratus juta yang ada di dalam tas yang dibawanya.
“ Apa pak?!!! Lima ratus juta?”
Kaget sang pemuda mendengar penawaran dari bapak tua tersebut. Sejenak ia membayangkan mempunyai uang seratus juta. “bagaimana ya? Aku dengan uang lima ratus juta yang ada di genggamanku? Bias beli gitar yang lebih bagus lagi, betulin rumah, tapi, bagaimana aku bisa menggengam? Sementara tanganku di bawa pergi oleh bapak ini.”
rasa bingung menghinggapi pikiran sang pemuda.
“ Anu pak, bagaimana kalau bapak kembali kesini tiga hari lagi. Saya akan memikirkan tawaran bapak dulu.”
Sang pemuda memberi tawaran kepada bapak tua tersebut.
Dengan senyum lebar sang bapak berkata
“ Baik nak Gibson, saya akan kembali kesini tiga hari lagi”
Lalu sang bapak berpamitan pada pemuda itu dan segera pergi meninggalkan rumah kecil yang sudah agak reyot itu.
Gibson kembali lagi tidur di dipan kayu yang ia miliki. Mencoba untuk tidur kembali. Ia pejamkan matanya. Tapi ada sesuatu yang sangat menjanggal di benaknya. Ia masih memikirkan tawaran pak tua tersebut. “mungkin enak juga ya? punya uang lima ratus juta bisa beli apa-apa, dan hidupku juga tidak susah seperti ini.” Batin Gibson.
Setelah tiga hari berlalu, kembalilah pak tua berjenggot itu ke rumah Gibson. Dengan membawa tas berisi lima ratus juta di tangan kirinya, tangan kanan pak tua mengetuk pintu rumah Gibson.
“ Tok…tok…tok… nak Gibson. Nak Gibson.” Terdengar suara ketukan pintu di ikuti panggilan dari bapak tua itu.
Setelah agak lama menunggu, di bukakan pintu itu oleh Gibson.
“Maaf pak, agak lama. Soalnya saya baru dari belakang. Jadi tidak mendengar panggilan bapak. Maaf lho pak."
“ Aaaaah, tidak apa-apa kok.”
Sambil tersenyum sang bapak menjawabnya
“ Mari pak, silahkan masuk”
Gibson mempersilahkan sang bapak untuk masuk kerumahnya.
“ Bagaimana nak Gibson atas tawaran saya pada nak Gibson?”
Tanya sang bapak untuk memastikan keputusan Gibson.
“ anu pak, setelah saya piker-pikir dan memikir lagi pak, saya bersedia menerima tawaran dari bapak.”
Jawab Gibson dengan tersipu malu.
“ Itulah jawaban yang saya tunggu-tunggu dari nak Gibson”
Seraya menyerahkan tas berisi uang lima ratus juta
“ Ini uangnya nak Gibson. Bisa nak Gibson hitung sendiri”
Setelah Gibson menerima dan menghitung uang tersebut, segera ia melepas kedua tangannya dan menyerahkan pada pak tua berjenggot itu.
“ Ini tangan saya pak. Bapak bisa membawa pulang tangan saya.”
Sesudah transaksi jual beli tangan tersebut selesai, pulanglah bapak berjenggot itu dengan perasaan senang kembali ke kota tempat asalnya.
Dari dalam gedung kesenian yang terletak tak jauh dari balai kota Nada, terdengar suara-suara gitar dimainkan oleh beberapa anak muda yang sengaja datang untuk unjuk kebolehan dalam bermain gitar. Memamerkan skill yang mereka miliki. Atau hanya sekedar melihat perhaelatan akbar yang diadakan secara rutin dari tahun ke tahun yang nantinya akan melahirkan musisi-musisi handal. Mereka semua, para calon-calon musisi datang dari berbagai penjuru negri untuk membuktikan siapa yang terbaik dalam memainkan gitar. Festival Gitar tersebut di ikuti oleh beratus-ratus anak muda yang memang sudah mumpuni untuk urusan bermain gitar. Mereka-mereka, para anak muda berlomba-lomba untuk memamerkan kehandalan bermain gitar. Berbagai genre dan aliran musik di mainkan dalam ajang festival tersebut. Rock, Jazz, Blues, dan Metal, musik semacam inilah yang sering kali di usung oleh para peserta. Mereka semua memang ahlinya dalam bermain gitar. Bermacam-macam pertunjukan atraktif ditampilkan para jagoan-jagoan gitar.
MC segera naik ke atas panggung untuk mengumumkan siapakah selanjutnya yang akan naik ke atas panggung. Di peganglah mic, dan mulailah ia berbicara.
“ Untuk selanjutnya, peserta dengan nomor undian seratus tujuh puluh dua, di harap segera naik keatas panggung”.
terdengar MC acara menyebut-nyebut nomor undian yang aku dapat. Dalam batin ia berkata “ Tiba juga waktuku”. Segera ia naik ke atas panggung untuk mempertunjukkan keahliannya dalam bermain gitar. Di tancapkannya kabel ke sound. Mulailah bocah tersebut memamerkan skill-skill yang ia kuasai. Permainan gitar yang sangat enak didengar oleh telinga siapa saja yang mendengarnya. Entah, tangan siapakah yang lihai memainkan jari-jemarinya memetik senar-senar yang membuat semua orang terdiam dan ingin mendengarkan, siapa gerangan yang sedang bermain gitar tersebut. Setelah membuat penonton dan juri terkesima akan permainan gitarnya, bocah itu memainkan sebuah instrumental karyanya sendiri. Jari-jemarinya seakan-akan sudah tahu mau kemana ia akan melangkah mengitari fret-fret pada gitarnya. Dengan lenturnya tangan sang bocah memetik senar gitar sehingga menghasilkan suatu alunan nada yang membuat semua orang terpesona akan penampilannya. Tepuk tangan penonton membuat suara di dalam gedung kesenian itu semakin ramai.
Dibarisan bangku penonton terlihat seorang lelaki paruh baya memakai topi yang sudah usang dengan jenggot tebal membuat janggutnya lebih besar, kaca mata hitam tak ketinggalan menutupi matanya. Muncul wajah yang menunjukan rasa bangga ketika ia melihat bocah yang sedang bermain gitar di atas panggung itu. Dilepasnya kaca mata hitam miliknya oleh wanita yang sedari tadi duduk di sampingnya. Di usapnya air mata yang membasahi pipi lelaki tersebut. Tak tahan ia menahan rasa bangga melihat anaknya bermain gitar.
“ Siapa pemuda yang sedang di atas panggung itu ?”
Pertanyaan itu sering kali keluar dari mulut seseorang yang menyaksikan penampilan bocah bernomor seratus tujuh puluh dua. Semua orang yang hadir terkagum-kagum pada keahliannya dalam memainkan gitarnya.
Waktu menunjukkan pukul sembilan malam. Menandakan kontes gitar tersebut telah usai. MC acara segera memanggil para juri untuk membacakan siapa-siapa yang akan menjadi jawara gitar tahun ini. Para juri sudah membawa secarik kertas yang didalamnya bertuliskan nama-nama pemenang festival gitar tersebut. Juri memegang microphone untuk memperkeras suaranya dalam menyebutkan siapa pemenang kontes tersebut. Perasaan penasaran menghinggapi seluruh peserta dan penonton yang juga ikut menyaksikan pertunjukan akbar itu.
Juri mulai membacakan nama-nama para pemenang. Penonton untuk sementara terdiam dan mendengarkan baik-baik siapakah yang bakal jadi pemenangnya.juara ketiga diraih oleh bocah tuna netra berumur lima belas tahun. Segera sang bocah buta itu naik keatas panggung untuk menerima trophy yang telah disiapkan untuk para jagoan-jagoan gitar. Berikutnya juri mengungumkan juara kedua.
“ Juara kedua dalam festival gitar tahun ini adalah Ibanez Prasetyo”
Rasa senang berkecamuk di hati Ibanez. Segera ia ikuti jejak si buta naik ke atas panggung untuk menerima trophy bergengsi itu. Tetapi perasaan lain ditunjukkan seorang pemuda yang dari tadi menunggu namanya di panggil oleh juri. Perasaan kecewa ditunjukkan pemuda itu. Selang beberapa menit sang juri kembali mengungumkan siapa yang bakal menjadi jawara dari jawara gitar. Di pegangnya mic,
“ Untuk juara pertama kita, kita sambut....”
Di iringi suara drum yang membuat hati siapa menjadi deg-degan, sang juri berteriak menyebut namaku.
“ Sang jawara kita... Fendericooooooo!!!”
Perasan tak karuan menghinggapi diriku. Segera aku berlari menuju ke atas panggung. Ku terima trophy tersebut. Seperti mimpi saja yang kurasakan. Tak kusangka aku memenangkan kejuaraan gitar tahun ini. Dari kejauhan seorang pemuda yang kedua tanganya hilang hanya menyunggingkan senyum kecil melihat Fenderico menerima trophy itu, lalu ia segera meninggalkan gedung kesenian tersebut dengan langkah santai. Dalam batinnya ia berkata penuh penyesalan “Mengapa dulu aku menjual tanganku?”. Read More..
Posted on
-
0 Comments
Posted by
Tengky Widjanarkoe
In:
Cerpenku
“Berapa?”, sambil merogoh sebuah dompet yang tebal dari celana panjangnya. Itulah pertanyaan yang keluar dari mulut seorang laki-laki berkaca mata berumur sekitar setengah abad dengan kepala yang sedikit botak di bagian depan dan rambut hitam yang ditemani beberapa uban yang sudah mulai kelihatan memenuhi sebagian pinggir kepalanya dan dengan badan setengah telanjang yang hanya memakai celana pendek bermotif kotak-kotak dan keringat yang hampir atau bahkan telah mengering di tubuhnya berdiri persis berada di depanku.
”Dua Ratus Lima Puluh Ribu”, jawabku singkat tanpa banyak kata yang terlontar dari mulutku. Dengan kondisi tubuhku yang hampir lemas, selepas melayani pelangganku yang katanya menjabat sebagai anggota DPR. Aku menerima tiga buah lembar uang seratus ribuan dari tanganya yang sedari tadi memilih beberapa uang ratusan dari dompetnya. Entah itu uang hasil korupsi atau dari manalah, persetan dengan semua itu. Yang penting aku dapat uang, uang, dan uang untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Dengan membetulkan tali BH ku sebelah kanan yang melorot, aku sedikit terkejut dengan uang yang kuterima.
”Nggak salah, Om?”, tanyaku dengan sedikit rasa penasaran yang menggeliat dipikiranku. ”Aku nggak punya kembalian Om. Om adalah pelangganku yang pertama”, sambut pertanyaanku yang tadi. Sambil menarik resleting celananya keatas si Om mengeluarkan kata dengan nada santai sedikit tersenyum, ”Alaaaah...kayak gak tau Om aja, kembaliannya buat kamu aja. Buat beli bedak dan lipstik untuk bibirmu yang sexy itu”. Lalu dia pergi dari kamar nomor 202 salah satu hotel bintang lima di kawasan Ibu Kota Jakarta, meninggalkan aku dengan tiga lembar uang seratus ribuan yang masih berada di genggamanku. Lalu aku segera mengikuti jejak si Om tadi.
Terdengar suara teriakan ”Aaaauuuuuww”. Semua orang yang mendengarnya memandangnya dengan rasa penasaran. Itulah suara yang keluar dari mulut salah satu wanita cantik yang mangkal di warung remang-remang pinggiran jalan ibu kota. Ya, sebuah colekan melayang di pantat seorang wanita cantik yang berumur sekitar tiga puluh dua tahunan yang sedari tadi mencoba mencari pelanggan yang haus akan kebutuhan biologis. Tetapi jangan salah, meskipun wanita tersebut berumur tiga puluhan keatas, wajah dan bentuk lekuk tubuhnya masih menunjukkan sesosok tubuh yang baru berumur belasan tahun. ”Iiiiih...masih kecil sudah mulai kurang ajar ya?”, wanita itu berkata seperti menceramahi anak yang memang baru lulus beberapa tahun dari sekolah menengah keatas. Sang anak yang merasa dirinya dihina dan dianggap tidak tahu apa-apa soal dunia prostitusi merasa tersinggung dan memberanikan diri untuk menawar wanita tersebut. Dari colekan, kemudian menjadi obrolan yang lebih serius. Tawar menawarpun terjadi antara kedua makhluk yang konon katanya memiliki nilai moralitas yang tinggi. Tetapi adakah nilai moral kemanusiaan yang sudah terjerembab dalam dunia hitam seperti ini?.
”Emang berapa sih tarifnya?”, sambil menelan ludahnya dan agak sedikit canggung untuk mengatakannya anak itu menawar gadis tersebut. ”Emang kamu berani berapa?” wanita tersebut berucap seolah meremehkan anak yang dianggapnya baru bau kencur. ”Wah kalo masalah tarif sih aku gak tau neng”, dengan menunjukkan wajah yang polos anak itu berujar. ”Emmmmm...kayaknya gak usah aja deh, tar baru beberapa jam sudah klepek-klepek”. Wanita itu lalu pergi begitu saja dengan senyum yang menyakitkan bagi si pemuda yang hanya menahan amarah sambil mengumpat dalam batinnya ”Uuuh, liat aja besok. Bakal tak samperin lagi kau”. Seiring jarum panjang jam yang berputar di arloji yang melingkar di tangan kirinya, waktu menginjak pukul dua belas malam maka pulanglah anak itu dengan hati yang agak kesal karena dirinya merasa diremehkan oleh seorang PSK.
Keesokan malamnya sang anak kembali lagi ke tempat yang mempertemukan dia dengan seorang wanita yang membuat dirinya penasaran dan sedikit tertarik juga. dengan PeDe-nya dia menunggu wanita tersebut karena sedari rumah dia sudah menonton film porno untuk panduan agar nanti saat bersenggama dia tidak kebingungan apa yang harus dilakukan. Detik berganti detik, menit berganti menit, dua jam berlalu, tapi yang dinanti tak kunjung muncul menampakkan batang hidungnya. Sang anak merasa kesal karena yang dinanti tak kunjung datang. Dengan hati yang kesal akhirnya dia pulang dan memutuskan untuk kembali lagi esok harinya.
Suara bising kendaraan yang lalu lalang di jalan sekitar komplek warung remang-remang dan kupu-kupu malam yang siap menyedot bunganya sudah menjadi pemandangan yang tidak tabu lagi. Gadis-gadis dengan pakaian ketat yang menunjukkan lekuk tubuhnya sudah menjadi incaran para serigala-serigala yang liar dan haus akan kebutuhan biologis yang tak terpenuhi dan siap menerkam mangsanya. Ditambah dengan rok minim yang melekat di paha yang putih dan mulus dibalut stocking, membuat para hidung belang semakin beringas untuk menentukan buruannya. Ditengah-tengah hidung belang yang berkeliaran terlihat seorang anak yang dari tadi menanti yang dinantinya.
”Anjink!!! Kemana sih wanita itu? Kok susah amat dicari” pikirnya dengan perasaan kesal. Meskipun banyak gadis-gadis yang cantik dan bahkan lebih muda dari yang dinanti, sang anak tetap bersikukuh untuk tetap menunngu yang dinantinya. Beberapa jam dilaluinya dengan perasaan yang tak menentu di otaknya. Setelah sabar menunggu beberapa jam akhirnya dari kejauhan terlihat sesosok wanita berjalan dengan pantat naik turun yang sudah tak asing dimatanya. Memang benar, yang dinanti akhirnya muncul juga. Sang anak langsung nyamperin wanita itu. Dari belakang ia menguntitnya, dan tiba-tiba dia berkata yang membuat sang wanita agak sedikit kaget. ”Hai cantik.. gimana nih kabarnya? Ingat gak ama aku?” tanya sang anak pada wanita yang menghentikan langkahnya dan segera membalikkan badannya untuk mengetahui siapa gerangan yang memanggil dirinya.
Seperti melihat setan wanita itu terkejut tatkala dia tahu siapa yang memanggilnya. Dengan sedikit perasaan kaget sang wanita berucap ”Ooooo, kamu lagi to?”, tanya sang gadis dengan sedikit tersenyum. Giginya yang putih dan pipinya yang menimbulkan lesung di pipinya membuat wanita itu semakin cantik bukan mainnya. Lelaki itu terpesona melihat kecantikan yang terpancar dari wajah wanita itu. ”Ada apa lagi, deeeeek?”, seiring menyambung pertanyaannya yang keluar dari mulutnya tadi.
”Jangan panggil dek dong neng. Panggil Diaz aja”, sembari mengulurkan tangan kanannya sambil menyebutkan namanya ”Diaz”. Diaz bermaksud ingin mengajak berkenalan wanita tersebut. Sang wanita pun merespon ajakan tersebut. Tangan kanannya segera menjabat tangan kanan Diaz seraya berucap ”Retno”. Merekapun akhirnya mulai mengobrol dan mengobrol. Mereka berdua ngobrol begitu akrabnya tak menyadari bahwa mereka baru bertemu dan baru saling kenal. Seiring waktu yang mulai beranjak malam. Keduanya terhanyut dalam obrolan-obrolan yang menjurus kearah berbau intim.
Obrolan mereka berdua kemudian berlanjut ke kamar sebuah Losmen. Dia mulai mengeluarkan jurus-jurus jitu merayu wanita. Kata-kata Diaz membuat Retno terbuai dalam untaian-untaian kata yang membuat luluh hati Retno. Bibir Diaz secara refleks mulai mengulum bibir Retno. Dengan lihainya lidahnya menari-nari di dalam mulut Retno. Retno pun tak mau kalah, seakan ingin menunjukkan keahliannya menghadapi laki-laki seperti Diaz. Perlahan tapi pasti, remasan pun mulai diluncurkan tangan nakal Diaz. Retno pun menggeliat, hatinya merasa tergetar oleh sentuhan lembut tangan Diaz. Tak pernahnya Retno merasakan sentuhan tangan seorang laki-laki seutuhnya seperti Diaz. Kendati Retno sudah sering menghadapi sentuhan-sentuhan tangan jahil si hidung belang. Tapi ini lain dari pada yang lain. Dia seperti merasakan hubungan batin dengan seseorang yang telah lama tak pernah ia temui. Baju pun mulai lepas dari kedua badan masing-masing.
Seketika keduanya telanjang bulat tanpa sehelai benang pun di tubuhnya, tak lebih menggunakan pakaian lahir mereka. Sekali lagi, lidah Diaz bermain dengan lincahnya di puncak dua buah daging yang menonojol empuk di dadanya. Retno mulai merintih, merasakan kenikmatan tersendiri saat melakukannya bersama Diaz. ”Hebat juga kau dalam urusan ranjang”, Retno terkagum,”Makanya, jangan remehin anak kecil”, Diaz menyombongkan diri.
Meskipun usia keduanya terpaut jauh, keduanya tak saling menghiraukan, mereka terhanyut dalam senggama yang tak pernah sekalipun Diaz dan Retno dapatkan. Dengan berbagai gaya ia tirukan, persis dengan apa yang ia tonton dan pelajari dari film porno yang Diaz pelajari kemarin. Layaknya seekor kuda yang binal, Diaz melakukan hubungan itu dengan semangat menggebu-gebu – maklum Diaz belum pernah melakoni hal tersebut sebelumnya. Mereka berdua saling adu lomba menunjukkan keahliannya dalam urusan ranjang. Tanpa sadar jarum jam yang menempel di dinding Losmen tersebut sudah menunjukkan pukul setengah tiga. Akhirnya, keduaanya pun merasa untuk menyudahi permainan dan dalam keadaan capek Diaz dan Retno tertidur lelap berbalut keringat yang masih membasahi tubuh mereka berdua.
Ayam jantan pun berkokok. Menandakan pagi telah datang. Keduanya terbangun dan saling pandang. Mereka berdua saling bertatapan mata, hati Retno seakan pernah merasakan pandangan mata dari seorang yang pernah ia kenali. ”Berapa?”, ucap Diaz. Retno pun menjawab, ”Baru kali ini aku merasakan menjadi wanita seutuhnya, karena denganmulah aku merasakan kenikmatan sex yang benar-benar menikmati. Bukan sekedar melayani tamu-tamuku seperti biasanya. Walaupun sudah sering aku melakoninya dengan banyak pria, tapi denganmulah aku merasakan kenikmatan tersendiri. Jadi khusus untuk dirimu, tak perlu kau membayarku, sebagaimana pria hidung belang yang mengencaniku”.
”Tapi kau tak akan bertemu aku lagi, Retno”, Diaz meyakinkan. Rasa penasaran berkecamuk dipikirannya. Pikirnya, padahal aku baru pertama ini menemui laki-laki seperti Diaz. Dengan rasa penasaran itu aku bertanya pada Diaz, ”Kamu mau pergi kemana?”, tanyaku penuh sesal. ”Besok aku mau pulang kampung”, singkat Diaz menjawab.
Tok, tok, tok. Suara ketokan pintu membuat seorang nenek tua yang ubannya sudah hampir merata ke seluruh bagian rambutnya membuka pintu untuk mengetahui siapa orang yang mengetuk pintunya. Dibukanya pintu tersebut, seorang wanita dengan tas kecil di pundaknya berdiri di hadapannya. Sang nenek menatap mata wanita tersebut dengan sorot mata yang tajam. Keduanya saling berhadapan satu sama lain. Sembari mengingat siapa wanita yang berdiri di depannya, tetesan air mulai mengalir dari kedua mata nenek tersebut. Wanita yang sedari tadi berdiri di depan pintu langsung menciumi kaki nenek tersebut. Sambil menangis dengan perasaan penuh dosa kepada nenek tersebut, wanita itu tak henti-hentinya berucap ”Maafkan Retno Bu, maafkan Retno”.
Dengan peluh yang masih membasahi pipi nenek tersebut, sang nenek berucap ”Berdirilah anakku, kau tak perlu minta maaf kepadaku. Ibu sudah memaafkan kesalahanmu. Berdiri, peluk ibumu ini”. Lalu sang wanita segera berdiri dan memeluk tubuh wanita tua itu dengan eratnya. Keduanya saling melepas rindu. Sambil tersedu-sedu wanita itu bertanya kepada ibunya ”Dimana anakku?”, lalu dari balik selambu muncul seorang anak laki-laki. Dan alangkah terkejutnya sang wanita ketika melihat anak laki-laki yang muncul dari balik selambu. Dengan rasa berdosa dan mengeluarkan air mata yang tak henti-hentinya mengucur deras dari kedua matanya tanda penyesalannya yang betul-betul menyesal wanita tersebut berkata, ”Kaukah anakku?”, wanita tersebut tak menyangka bahwa yang berdiri di hadapannya adalah Diaz. Laki-laki yang pernah menidurinya. Read More..
Posted on
-
0 Comments
Langganan:
Postingan (Atom)































