right_side

Facebook Badge

Tengky Widjanarkoe's Facebook profile

Mengenai Saya

Foto saya
Ketika Anda Lahir Ke Dunia. Duna Tahu Apa Tentang Anda?. Itulah Pertanyaan Yang sampai Saat Ini Menghantui Pikiranku.

Berita Hari Ini



  • Label


    Apa yang Anda lakukan ketika di warnet

    Add to Google

    Bapak Perjuangan


    Suara Kawan

    My Blog

    My Blog Rank

    My Popularity (by popuri.us)

    Tourist Country

    Tourist Flag

    free counters

    Tourist Face

    Baca Berita Di Sini

    Indonesiaku (Taring Padi)



















    Anti Racist















    Tampilkan postingan dengan label Proletariat. Tampilkan semua postingan
    Tampilkan postingan dengan label Proletariat. Tampilkan semua postingan
    In: , , , ,

    Duduk Diam atau Bangkit Melawan?

    Tulisan Oleh : Tengky Widjanarkoe


    Ini adalah perjuangan yang penghabisan,
    Marilah kita berkumpul dan besok
    Internasionale
    Itulah umat-manusia

    Bangunlah semangat proletar!
    Kaum Pekerja, berkumpullah kita pada akhirnya.
    Bangunlah! Kaum terkutuk di bumi!
    Bangunlah! Kaum pekerja paksa dari kelaparan!
    Untuk mengalahakan kemiskinan dan kegelapan.
    Kaum budak, bangunlah! Bangunlah!
    Kebenaran di pihak kita, jumlah di pihak kita.
    Kita yang dulu bukan apa-apa, akan menjadi segala.

    Ini adalah perjuangan yang penghabisan
    Marilah kita berkumpul dan besok
    Internasionale
    Itulah umat manusia.

    Tidak ada juru selamat-juru selamat agung:
    Bukan Tuhan, bukan kaisar, bukan tribun.
    Kaum pekerja, marilah kita sendiri menyelamatkan diri kita.
    Kaum pekerja, ke sejahteraan umum.
    Supaya pencuri-pencuri mengembalikan barang curian.
    Untuk membebaskan jiwa dari penjara,
    Nyalakan perapian besar kita,
    Tempalah besi selagi ia membara.


    (E.Pottier : Internasionale)



    Mobil ketua PDI Perjuangan Jakarta dilempari batu oleh massa pendukungnya sendiri. Peristiwa di awal September 1999 ini merupakan buntut kekecewaa warga PDI, karena sang ketua memuuskan untuk bekerja sama dengan TNI dalampemilihan Ketua DPRD Jakarata. Calon dari TNI itu akhirnya menang. Kejengkelan pendukung PDI tak bisa ditahan-tahan lagi. Mereka belum lupa, tragedi 27 Juli 1996 yang menelan korban warga PDI adalah ulah TNI. Tetapi kekecewaan massa terhadap partai pilihannya, bukan tertuju pada PDI Perjuangan . Para pemilih PAN, telah lama kecewa dengan tingkah laku politik Amien Rais, Sang Ketua Umum yang mencla-mencle.

    Dari kisah di atas kita tahu bahwa Massa-lah yang memegang kendali semuanya. Kita tahu tak ada yang bisa melawan aksi massa, sudah saatnya kita melawan. Lawan, lawan dan lawan. Kita tahhu bahwa Kapitalisme telah menyengsarakan rakyat Indonesia, membuat Negeri ini di ambang kehancuran. Akan tetapi tak juga di Indonesia, di belahan bumi manapun Kapitalisme telah membuat rakyat menderita, terutama buruh dan petani. Namun tak selamanya Kapitalisme akan berjaya seperti sekarang.

    "Akan datang suatu masa dimana Lonceng Kapitalisme akan berdentang, dan penjarah akan mengambil barang yang telah di curi dari dirinya". Dan itu memang sudah terjadi dan terbukti. Kita tengok Revolusi Rusia tahun 1917, dan bisa di lihat bahwa massa aksilah yang memegang semua kendali. Dimana Revolusi tersebut telah meruntuhkan Kapitalisme yang lama becokol di Rusia. Revolusi yang dipimpin V.I.Lenin telah menggulingkan kekuasan Tsar III.

    Bagaimana dengan Indonesia? Satu pertanyaan yang sudah ada jawabannya tapi masih menunggu tindakan. Sudah saatnya kita memlih "DUDUK DIAM ATAU BANGKIT MELAWAN"?. Jika kita memilih "DUDUK DIAM" berarti kita akan selama-lamanya hidup dalam penindasan Kapitalisme dan hanya akan hidup sengsara, sengsara dan sengsara. Kapitalisme telah menjadikan "Yang Kaya makin Kaya, dan Yang Miskin menjadi Miskin". Sungguh suatu sistem yang tak adil dan berpihak pada satu kelas, yaitu kelas "Borjuasi". Jika kita selama-lamanya hanya "diam" dan mengharapkan bantuan dari yang tak pasti, sudah pasti tak ada bantuan yang akan datang, kita tak bisa mengubah nasib kita selain kita sendiri. Namun sayang, masyarakat kita kebanyakan masih berfikiran kolot. Mereka masih percaya pada hal-hal gaib, hal yang tak pasti. Tapi hal itu tak bisa tak di hilangkan. Dalam Revolusi menuju perubahan kita harus hilangkan dulu hal-hal yang berbau gaib dan tak pasti. Dalam lagu internasionale di atas di tulis "Tidak ada juru selamat-juru selamat agung: Bukan Tuhan, bukan kaisar, bukan tribun". Hanya kita, Kaum Buruh dan Tani yang bisa mengubah semuanya.

    Rakyat Indonesia sebagian besar adalah Buruh dan Tani, dan itu bisa dijadikan senjata Revolusi paling ampuh dan tak ada tandingannya. Kita harus berani melawan Babi-Babi Kapitalisme yang makin gemuk di negeri ini, mereka dengan tenang merongrong tiang Negara. Kita harus berani melawan Rayap-Rayap Imperialisme yang makin ganas di bumi pertiwi ini, menggencet para rakyat -buruh dan tani- dengan antek-anteknya. Kita harus "BANGKIT MELAWAN" semua ketimpangan di negeri ini. Melawan ketidak adilan di negeri ini. Hanya ada kata : Lawan, Lawan dan Lawan.

    Tapi itu semua terserah anda dalam memilih, "DUDUK DIAM ATAU BANGKIT MELAWAN?"

    Read More..
    In:

    Proletariat Versus Borjuasi

    Soviet Rusia 1921. Di masa itu, Soviet Rusia bergejolak. Di lapisan sosial masyarakat yang paling rendah, golongan buruh, khususnya golongan buruh industri yang tidak mempunyai alat produksi dan hidup dari menjual tenaga, yakni kaum proletariat; juga ada dinamikanya. Ada intrik, benci, dan gemeretak kegeraman terdengar di mana-mana di sudut kota tua, Moskow.

    Konflik kelas di perkotaan terjadi antara para pemilik modal dan kaum buruh yang tidak punya harapan untuk memperoleh harta pribadi. Proses (konflik) yang lain berlangsung di pedesaan, antara dua kelas pemilik: di satu pihak para tuan tanah dan di pihak lain para petani. Kaum tani ini tidak memiliki kesadaran atau aspirasi sosialis, sebaliknya mereka ingin pembagian tanah yang merata dan adil. Dalam upaya itu, kaum petani kaya (para tengkulak) bisa saja ikut berpartisipasi.

    Revolusi Oktober di Soviet Rusia hanya dapat terjadi berdasarkan kedua proses tersebut. Namun demikian, kedua proses ini hanya dapat bergabung karena faktor khusus. Di Soviet Rusia, kelas borjuis tak mampu berpisah dengan para tuan tanah. Hal ini menyebabkan kaum tani terpaksa bersekutu dengan kelas buruh. Dan, Revolusi 1917 mengombinasikan “perang para petani” dengan insureksi kaum proletarian itu.





    Kelas borjuis dan kaum tuan tanah ditumbangkan, namun kelas-kelas yang menumbangkan mereka tidak mempunyai tujuan bersama dalam jangka panjang. Kelas buruh hidup dari kegiatan kolektif di tempat kerja, sedangkan kaum tani hanya dapat bersatu secara sementara untuk merebut tanah, kemudian mereka akan menjalankan produksi individual kalau tidak didominasi oleh kekuatan luar.

    Akibatnya, revolusi merupakan kekuasaan kaum buruh di atas kelas lain di perkotaan, sekaligus merupakan kekuasaan kota atas pedesaan. Pada tahap pertama, pemerintahan Bolsyevik dapat mengandalkan dukungan kaum tani dan memang dibela oleh bayonet para prajurit berlatar belakang rural . Namun apa jadinya kelak?

    Pertanyaan klasik ini telah lama direnungkan oleh kaum Marxis di Rusia. Sebuah revolusi sosialis bisa saja tenggelam dalam lautan petani. Hal itu menjelaskan mengapa sebelum tahun 1917, kaum Marxis (kecuali Leon Trotsky) melihat revolusi di Rusia sebagai “revolusi demokratik”.

    Tatkala Trotsky mengajukan skenario revolusi sosialis, Vladimir Ilich Lenin (1870-1924) menulis demikian: “Ini mungkin karena kekuasaan sosialis hanya dapat stabil berlandaskan dukungan mayoritas besar. Adapun proletariat Rusia merupakan minoritas rakyat Rusia saat ini”. (Julian, “ Russia: How the Revolution Was Lost ” karya Chris Harmann)

    Lenin mempertahankan pendapat ini sampai awal 1917. Pada tahun itu dia berubah sikap, tetapi hanya karena dia melihat revolusi di Rusia sebagai tahap pertama revolusi global, di mana kelas pekerja di Barat dapat menolong kaum pekerja untuk mengambil hati para petani Rusia. Delapan bulan sebelum insureksi Oktober, Lenin pun menulis: “Proletariat Rusia tidak bisa menuntaskan revolusi sosialis dengan kekuatan sendiri”. Empat bulan setelah insureksi tersebut, dia menggarisbawahi: “kebenaran yang mutlak bahwa tanpa terjadinya sebuah revolusi di Jerman, kita akan dihabisi”.

    Dinamika sosial-politik dan ekonomi ketika itu memang kompleks. Institusi yang bercokol di Rusia, 1921, telah jauh berbeda dari soviet-soviet dan Partai Bolsyevik, 1917. Para aktivis Bolsyevik yang ikut berpartisipasi dalam revolusi Februari itu adalah kaum revolusioner berkomitmen yang menanggung risiko berat selama berjuang bertahun-tahun melawan Tsar. Mereka tidak melepaskan prinsip sosialisme, bahkan ketika harus menghadapi empat tahun perang sipil dan ketersekatan dari rakyat pekerja.

    Namun pada 1919 unsur ini hanya merupakan 10 persen dari anggota partai; pada 1922 hanya 2-3 persen, karena Partai Bolsyevik telah tumbuh secara dahsyat. Banyak orang yang masuk partai itu yang bukan revolusioner, melainkan para oportunis yang ingin tampil dan eksis dalam birokrasi negara.

    Kaum proletariat—sebagian penduduk kecil yang mempunyai hubungan tertentu dengan “alat produksi”—terdesak. Kaum kapitalis memiliki pabrik, pertambangan, dan lain-lain bentuk “mesin pencetak uang”. Merekalah strata kapitalis itu. Kaum buruh bekerja di pertambangan dan pabrik, tetapi mereka tidak memiliki tambang dan pabrik. Mereka adalah kelas buruh.

    Kelas utama dalam masyarakat modern ada dua: kaum kapitalis (borjuasi) dan kaum pekerja-upahan (proletariat). Pada zaman dulu, ada kelompok pemilik budak, ketika kaum pekerja menjadi budak sebagai barang dengan tidak mempunyai suatu hak hukum atau hak sosial apa pun. Lalu para “tuan feodal” dengan hambanya—kaum pekerja pertanian dan abdi kaum pemilik tanah—yang terikat pada tanah. Juga ada kelas kepala gilda dan pedagang.

    Munculnya teori ekonomi sosialis pada era Bolsyevik bukan suatu eksperimen, namun manifestasi atau aplikasi ilmiah, dan telah mencapai hasil yang stabil. Bukan saja dicapai di Soviet Rusia, tetapi juga di kawasan lainnya; dari Berlin (Jerman Timur) hingga Hanoi (Vietnam), dari Tirana (Albania) sampai Pyongyang (Korea Utara).

    Ketika memberi kuliah umum di hadapan mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (Jakarta, 12 Desember 1954), salah seorang dedengkot Partai Komunis Indonesia (PKI), Njoto, menerangkan bahwa “ekonomi sosialis sekarang ini bukan hanya dapat dipikirkan dan dibayangkan, tetapi sudah diraba dan dirasakan”.

    Karl Heinrich Marx (1818-1883) adalah orang pertama yang menerangkan sifat objektif dari sosialisme ini. Namun tesis Marx ini bukannya jatuh dari langit. Ajaran ini lahir sebagai kelanjutan dari wakil terbesar sosialisme klasik Perancis, filsafat klasik Jerman, dan ekonomi klasik Inggris. Tiga komponen inilah yang menjadi manifestasi mazhab ekonomi marxisme.

    Mengenai mazhab ekonomi marxisme—inti dasarnya adalah pemahaman tentang teori “nilai lebih” dan teori “nilai kerja”—ini tidak sedikit ekonom yang salah persepsi, seolah-olah penemu pertamanya adalah Karl Marx. Padahal, pelepor ilmu ekonomi modern dan teori ekonomi “ laissez-faire ” berkebangsaan Skotlandia, Adam Smith (1723-1790), yang terkenal melalui karya klasiknya An Inquiry into the Nation and Causes of the Wealth of Nations (1776), serta peletak dasar teori ekonomi-politik berkebangsaan Inggris dan penulis On the Principles of Political Economy and Taxation (1817), David Ricardo (1772-1823), telah mengemukakan teori “nilai kerja” ini; bahkan juga teori “nilai lebih”. Dan, Marx hanya melanjutkan ajaran mereka secara dialektis dan konsekuen.

    Di mana letak perbedaan antara ekonomi marxis dan kebanyakan aliran ekonomi lainnya? Hemat saya, perbedaan itu terutama terletak pada kenyataan bahwa kebanyakan ekonom lainnya melihat hubungan antara barang dan barang (kapitalisme), sedangkan Marx melihat hubungan antara manusia dan manusia (sosialisme).

    Dan ajaran Marx tentang teori ekonomi-politik dijelaskannya secara panjang lebar dalam buku standarnya, Das Kapital (1867). Marx menjelaskan bahwa “tujuan akhir karangan ini ialah mengungkap hukum gerak ekonomi dari masyarakat modern”. Tentu saja yang dimaksud Marx adalah masyarakat kapitalis (atau kapitalisme).

    Sekarang, tinggallah kita merenungi kembali, apa sesungguhnya mazhab ekonomi yang dikembangkan di negeri tercinta yang berpaham “demokrasi ekonomi” ini?

    Read More..